APA ITU SIFILIS? APAKAH BERBAHAYA? – RS. MITRA MEDIKA PREMIERE

RS. Mitra Medika Premiere

Sifilis adalah penyakit menular pada organ reproduksi wanita maupun pria yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat menular melalui aktivitas seksual dengan penderitanya. Meskipun demikian, sifilis adalah penyakit menular seksual yang dapat disembuhkan dengan pengobatan dan perawatan medis yang tepat.
Kementrian kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memberikan keterangan terbaru mengenai penyakit sifilis. Sepanjang 5 tahun terakhir, terjadi peningkatan dari 12.000 kasus ke lebih dari 20.000 kasus.
Lebih miris lagi, kebanyakan dari penderita sifilis adalah ibu hamil yang ditularkan dari suami. Sebanyak 25% ibu hamil yang terinfeksi masih belum mendapatkan pengobatan karna malu.

Apa itu penyakit sifilis?

Raja singa atau sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat memengaruhi berbagai organ tubuh dan memiliki beberapa tahap perburukan kondisi.
Umumnya, sifilis adalah penyakit yang diawali dengan luka di sekitar alat kelamin, dubur, ataupun mulut. Awal kemunculan luka tersebut cenderung tidak disertai dengan rasa nyeri. Karena lukanya tidak terasa nyeri, sifilis kadang tidak langsung disadari oleh penderitanya. Walau begitu, penderita sifilis tersebut tetap bisa menularkan infeksinya ke orang lain.
Apabila tidak ditangani dengan segera, sifilis berisiko menyebabkan komplikasi penyakit lain, seperti kerusakan jantung, tumor, infeksi HIV, dan gangguan kehamilan serta persalinan bagi ibu hamil.

Penyebab Penyakit Sifilis

Bakteri sifilis menginfeksi pada tubuh melalui luka kecil, luka lecet, ruam, dan selaput lender (mulut, alat kelamin).
Resiko penularan sifilis disebabkan oleh tindakan dan gaya hidup seperti berikut:
Berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis
Berhubungan seksual tanpa menggunakan kondom
Kontak erat pada penderita sifilis
Positif terinfeksi virus HIV

Gejala penyakit sifilis

Penyakit sifilis berkembang secara bertahap dan memiliki beberapa gejala yang bervariasi, bahkan ada orang yang terkena sifilis namun tidak memiliki gejala apapun. Berikut adalah beberapa gejala sesuai dengan tahapannya.
Gejala Sifilis Primer
Umumnya, gejala pada sifilis primer muncul pada 10-90 hari setelah penderita tertular oleh bakteri penyebab sifilis. Gejala dimulai dengan kemunculan luka kecil (chancre) tidak terasa sakit pada bagian masuknya bakteri ke dalam tubuh, biasanya pada daerah sekitar kelamin. Selain itu, luka juga dapat muncul pada bagian-bagian yang tidak terlihat seperti pada bagian dalam vagina, dubur, maupun mulut. Biasanya, luka akan menghilang dengan sendirinya dalam 3-6 minggu dan berkembang menjadi sifilis sekunder jika tidak diobati.
Gejala Sifilis Sekunder
Gejala pada sifilis sekunder muncul beberapa minggu setelah hilangnya luka pada sifilis primer. Gejala yang muncul berupa ruam pada bagian tubuh manapun, seperti pada telapak tangan dan kaki. Dalam beberapa kasus, ruam yang muncul disertai dengan kutil pada area kelamin atau mulut tetapi tidak menimbulkan rasa gatal. Ruam tersebut dapat berwarna merah maupun merah kecoklatan dan akan terasa kasar, namun terlihat samar. Pada tahap ini, gejala juga dapat disertai oleh gejala lain seperti demam, lemas, nyeri otot, sakit tenggorokan, kerontokan rambut, pusing, pembengkakan kelenjar getah bening, maupun penurunan berat badan. Sama seperti tahap primer, ruam dapat menghilang tanpa diobati dan akan muncul berulang kali setelahnya.
Sifilis laten
Di tahapan ini, penderita sifilis tidak mengalami gejala klinis tertentu. Di 12 bulan pertama sifilis laten terjadi, penderita masih dapat menularkan infeksinya. Namun, setelah 2 tahun, infeksi sifilis sudah tidak dapat ditularkan lagi, meskipun bakteri penyebab sifilis masih ada di dalam tubuh. Apabila tidak segera ditangani, sifilis laten dapat berlanjut ke tahap berikutnya, yaitu tersier.
Sifilis tersier
Infeksi sifilis tahap tersier ini merupakan tahapan dalam penyakit sifilis yang paling berbahaya. Tahap ini biasanya muncul 10–30 tahun setelah infeksi primer. Gejala sifilis tersier umumnya ditandai dengan munculnya tumor kecil pada bagian tubuh tertentu.
Di samping itu, sifilis tersier juga dapat berdampak pada organ tubuh lain, seperti jantung, otak, mata, hati, serta pembuluh darah. Sehingga penderita sifilis tersier rentan untuk terkena penyakit jantung dan stroke.

Diagnosa Sifilis

Dokter biasanya akan melakukan diagnosis penyakit sifilis ini dengan melakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Pemeriksaan darah tersebut dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri sifilis. Ada dua jenis pemeriksaan darah untuk diagnosis sifilis, yaitu:
• Tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratory).
• Tes TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination).

Pengobatan sifilis

Langkah pengobatan sifilis dilakukan sesuai dengan tahapannya. Bagi penderita sifilis primer dan sekunder, dokter akan mengobatinya dengan menyuntikkan antibiotik ke dalam otot. Sedangkan, untuk penderita sifilis tersier akan mendapatkan antibiotik melalui jalur intravena (infus).
Untuk ibu hamil penderita penyakit sifilis juga akan mendapatkan penanganan yang sama dengan pengidap sifilis tersier. Setelah mendapatkan pengobatan, penderita sifilis akan melakukan pemeriksaan darah kembali untuk memastikan bahwa infeksi telah sembuh total.
Dari informasi di atas dapat disimpulkan bahwa sifilis adalah penyakit menular seksual yang dapat ditangani dengan melakukan serangkaian pemeriksaan dan pengobatan oleh tenaga medis.
Jika kamu memiliki gejala dengan gaya hidup yang bisa menjadi faktor resiko terjadinya sifilis, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Reviewed by Tim Medis RS. Mitra Medika Premiere