RS. Mitra Medika Premiere
Kondisi anemia atau kurang darah pada seseorang tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi. Ada kelainan tertentu yang dapat menyebabkan kondisi kurang darah, seperti anemia aplastik. Anemia aplastik adalah kondisi kurang darah karena sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah baru yang cukup.
Beberapa orang mungkin akan kesulitan membedakan anemia aplastik dengan anemia biasa. Maka dari itu, penting untuk mengenal gejala anemia aplastik secara spesifik. Anda bisa menyimak penjelasan di bawah ini untuk mengenal penyakit anemia aplastik selengkapnya.
Anemia aplastik adalah kelainan darah yang serius dan langka yang terjadi ketika ada masalah pada sumsum tulang yang merupakan jaringan di dalam tulang yang memproduksi sel pembentuk darah. Orang yang terkena anemia aplastik punya kadar sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang rendah.
Anemia aplastik adalah gangguan kesehatan berupa anemia atau kurang darah dikarenakan sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah baru yang cukup, baik trombosit, leukosit, maupun eritrosit atau ketiganya sekaligus. Anemia aplastik adalah kondisi langka atau jarang ditemukan kasusnya. Walau begitu, anemia aplastik perlu diwaspadai karena tetap bisa dialami oleh seluruh kalangan.
Apa saja Penyebab Anemia Aplastik ?
Penyebab paling umum dari anemia aplastik adalah sistem kekebalan tubuh yang menyerang dan merusak sel induk di sumsum tulang orang tersebut.
. Akibatnya, sel yang rusak ini tidak mampu memproduksi sel darah dengan baik dan menyebabkan sumsum tulang menjadi kosong (aplastik) atau mengandung sel darah yang tidak mencukupi (hipoplastik).
Faktor lain yang dapat mempengaruhi fungsi sumsum tulang dan meningkatkan risiko anemia aplastik meliputi:
• Paparan bahan kimia beracun: Paparan insektisida, pestisida, dan bahan dalam bensin yang disebut benzena telah dikaitkan dengan risiko anemia aplastik yang lebih tinggi.
• Efek samping obat-obatan tertentu: Beberapa antibiotik dan obat-obatan dapat menyebabkan anemia aplastik.
• Kemoterapi dan radiasi: Ini adalah perawatan kanker yang membantu membunuh sel kanker. Namun, terapi ini juga dapat menyebabkan kerusakan sel-sel sehat termasuk sel-sel induk di sumsum tulang yang mengakibatkan anemia aplastik. Namun, efek samping ini bersifat sementara dan cenderung hilang setelah pengobatan kanker selesai.
• Kehamilan: Selama kehamilan, sistem kekebalan dapat menyerang sumsum tulang, sehingga mengurangi kemampuannya untuk memproduksi sel darah.
• Infeksi virus: Infeksi virus yang mempengaruhi sumsum tulang dapat memicu perkembangan anemia aplastik. Virus hepatitis, cytomegalovirus, HIV, dan parvovirus B19 terkait dengan risiko anemia aplastik yang lebih tinggi.
• Gangguan autoimun: Gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan menyerang dan menghancurkan sel-sel sehat dapat mempengaruhi sel induk yang menyebabkan anemia aplastik.
• Kelainan langka: Beberapa pasien dengan anemia aplastik memiliki kelainan langka yang disebut hemoglobinuria nokturnal paroksismal. Kondisi ini terjadi karena kerusakan dini sel darah merah yang mengakibatkan anemia aplastik. Dalam beberapa kasus, anemia aplastik dapat terjadi pada pasien dengan penyakit bawaan langka yang disebut anemia Fanconi. Anak yang lahir dengan anemia Fanconi cenderung memiliki cacat bawaan seperti pertumbuhan abnormal dan anggota badan yang kurang berkembang.
• Faktor yang tidak diketahui: pada sebagian besar kasus, penyebab pasti anemia aplastik tidak dapat diidentifikasi (Anemia Aplastik Idiopatik).
Gejala Anemia Aplastik
Terdapat berbagai gejala anemia aplastik dari yang ringan hingga berat. Gejala ini mungkin berbeda antara satu pasien dan pasien lain. Di antaranya:
• Sakit kepala
• Pening
• Mual
• Napas pendek
• Memar-memar di kulit
• Kurang berenergi atau mudah lelah
• Warna kulit terlihat pucat
• Darah dalam tinja
• Mimisan
• Gusi berdarah
• Demam
• Pembesaran hati atau limpa
• Sariawan mulut
Bagaimana cara mendiagnosis Anemia Aplastik?
Dokter akan mendiagnosis anemia aplastik berdasarkan pemeriksaan gejala dan riwayat kesehatan keluarga. Selain itu, dokter bisa menyarankan serangkaian tes diagnostik dan penapisan untuk menentukan penyebab gejala. Di antaranya:
• Wawancara medis, dilakukan dengan menanyakan keluhan pasien beserta riwayat penyakit yang diderita.
• Pemeriksaan fisik, dilakukan dengan memeriksa fisik pasien untuk melihat gejala anemia aplastik yang muncul.
• Pemeriksaan laboratorium, dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien lalu memeriksakannya ke laboratorium untuk mendeteksi kadar leukosit, trombosit, eritrosit, dan sel darah lainnya secara lengkap.
• Apusan darah tepi berupa pemeriksaan sampel darah yang diambil dari ujung jari di bawah mikroskop untuk mengecek kondisi semua jenis sel darah
• Biopsi sumsum tulang dengan mengambil sampel kecil tulang yang mengandung sumsum tulang untuk diperiksa di laboratorium
Proses Pengobatan Anemia Aplastik
Perawatan untuk anemia aplastik tergantung pada usia dan tingkat keparahan kondisi pasien. Tujuan pengobatan adalah mengembalikan produksi sel darah. Jika kondisinya ringan, dapat sembuh secara spontan tanpa memerlukan pengobatan meskipun hal ini tidak terlalu umum. Pasien kemungkinan besar membutuhkan transfusi darah dan trombosit, serta pengobatan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi.
Terapi antibiotik dan antivirus dilakukan apabila pasien anemia aplastik berisiko tinggi atau telah terserang infeksi.
Imunosupressan Imunosupresan seperti siklosporin dan anti-thymocyte globulin (ATG), adalah obat yang digunakan untuk menekan atau mengendalikan aktivitas sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi kerusakan yang dilakukan pada sel induk sumsum tulang. Pemberian imunosupresan Ini memungkinkan sumsum tulang untuk pulih dan menghasilkan sel darah baru untuk meringankan gejala anemia.
.Kortikosteroid seperti metilprednisolon sering digunakan dalam kombinasi dengan imunosupresan.
Transfusi darah Meskipun transfusi darah bukanlah obat untuk anemia aplastik, transfusi darah dapat meredakan gejala dengan memberikan sel-sel darah pada tubuh yang tidak dapat diproduksi oleh sumsum tulang. Transfusi darah mungkin melibatkan pemberian sel darah merah atau trombosit.
Transplantasi sumsum tulang Transplantasi sumsum tulang, untuk menggantikan sel sumsum tulang yang rusak dengan yang sehat.
Pencegahan terjadinya Anemia Aplastik
Dalam sebagian besar kasus, tak ada cara untuk mencegah anemia aplastik. Namun menghindari paparan zat tertentu bisa menurunkan risiko terkena penyakit ini, misalnya logam berat, insektisida, herbisida, dan zat beracun lain. Adapun bila sudah terdiagnosis, pasien anemia aplastik perlu mencegah kemungkinan infeksi dan/atau perdarahan yang bisa membahayakan jiwa.
Kapan harus ke dokter?
Bila mempunyai risiko atau mengalami gejala anemia aplastik, sebaiknya datangi dokter segera untuk menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan ini penting untuk menegakkan diagnosis sekaligus melihat apakah ada infeksi yang terjadi. Diagnosis dan perawatan sejak dini memperbesar peluang keberhasilan penanganan pasien.

