RS. Mitra Medika Premiere
Ketika berobat ke dokter, tak jarang kita diresepkan obat antibiotik. Penjelasan dokter atau tenaga kesehatan lain hampir seragam: antibiotik harus dihabiskan. Tapi bagaimana jika merasa sudah sembuh saat antibiotik belum habis? Apa boleh antibiotik tak dihabiskan?
Mengenal obat antibiotik
Antibiotik adalah obat yang mampu membunuh kuman didalam tubuh, dengan berbagai macam cara kerja agar bakteri penyebab infeksi mengalami kematian. Penggunaan antibiotik pada pasien juga harus mengikuti kebijakan yang mempertimbangkan kondisi klinis pasien, kuman yang dicurigai menginfeksi, dan cara kerja dari obat antibiotik itu sendiri
Tubuh kita sudah ada system yang terbentuk untuk melawan infeksi, namun kemampuannya terbatas sampai titik tertentu sehingga jika terjadi infeksi berat, tubuh memerlukan bantuan dari antibiotik ini untuk menyembuhkan penyakit.
Antibiotik harus dipakai dengan tatacara yang benar, dari dosis, durasi pemberian, cara pemberian dan jenis dari antibiotiknya yang sesuai dengan kuman yang dicurigai menginfeksi. Semua faktor tersebut harus diperhitungkan untuk kesuksesan dari penyembuhan infeksi.
Dalam hal ini, bakteri yang bermutasi akan menjadi lebih kebal terhadap antibiotik tertentu dan bakteri menjadi tidak mati bila kembali terjadi infeksi. pada kasus yang semakin parah, bakteri semakin sulit dilenyapkan bahkan berisiko menyebabkan kematian.
Resistensi antibiotik cukup berbahaya, hal ini terjadi karena beberapa jenis antibiotik lain mengalami kesulitan untuk membunuh bakteri yang lebih kuat sehingga pilihan yang dimiliki seseorang menjadi terbatas. Walaupun, resistensi antibiotik lebih mengarah pada seseorang yang mengalami kondisi medis tertentu dan tidak terjadi pada semua kasus pasien yang tidak menghabiskan antibiotiknya.
Kendati demikian, jangan anggap remeh akan resistensi antibiotic. Karena dalam menentukan apakah seseorang memiliki risiko tinggi mengalami resistensi antibiotik bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu, alangkah lebih baik bila obat antibiotic benar-benar dikonsumsi hingga habis walau tubuh sudah merasa sehat dan sembuh dari penyakit yang diderita guna mencegah dampak dari resistensi antibiotik.
Apa yang bisa terjadi jika antibiotik tidak dihabiskan?
Teori yang melatari pendapat bahwa obat antibiotik harus dihabiskan adalah adanya potensi bakteri yang kuat masih tersisa di dalam tubuh walau kondisi sudah membaik. Antibiotik bekerja melawan infeksi bakteri dari hari ke hari hingga tuntas sesuai dengan resep dokter. Bila pemberian obat itu dihentikan sebelum waktunya, dikhawatirkan cuma bakteri lemah yang terbunuh. Sedangkan bakteri kuat masih hidup. Bakteri kuat ini bisa bertahan dan berkembang biak hingga menyebabkan infeksi makin parah. Bakteri itu pun jadi lebih mampu mempertahankan diri terhadap obat antibiotik yang sama. Artinya, pasien bisa jadi mesti berganti antibiotik atau meminum obat berdosis lebih tinggi untuk dapat sembuh.
Lantas, apa yang harus dilakukan bila tubuh sudah merasa sehat dan obat antibiotik yang diberikan belum habis?
Dalam penggunaan obat antibiotik, boleh atau tidaknya pasien untuk berhenti mengonsumsinya hanyalah dengan mengonsultasikan hal tersebut kepada dokter. Dokter akan memberikan saran terbaik apa yang harus dilakukan pasien terhadap antibiotik yang sedang dikonsumsinya. Karena pada jenis penyakit tertentu seperti pada infeksi saluran kemih dan nyeri dada, dokter akan menjelaskan bahwa pada penyakit ini penggunaan antibiotik harus berhenti bila penyakit yang dirasakan telah sembuh.
Ketika antibiotik sudah habis padahal masih sakit, jangan sembarangan beli obat sendiri. Konsumsi antibiotik tetap harus didasari resep dokter. Jadi kita mesti kembali mendatangi dokter dan menjalani pemeriksaan lanjutan guna mengetahui lebih pasti kondisi infeksi yang terjadi.
Bisa jadi dokter akan memberikan antibiotik berbeda atau menambah dosis. Ikuti anjuran dokter dalam meminum antibiotik agar tepat sasaran dan berhasil membunuh tuntas bakteri penyebab sakit.
Kesimpulannya
Pemberian antibiotik harus mempertimbangkan banyak faktor. Hal ini menyebabkan pemberian resep antibiotik harus dengan resep dokter sesuai pertimbangan medis. Durasi dari pemberian antibiotik juga dilihat dari jenis infeksi dan kesehatan pasiennya. Oleh karena itu, konsumsi antibiotik harus mengikuti anjuran dokter untuk meminimalisir efek samping obat dan menurunkan kemungkinan timbulnya resistensi antibiotik.

