Saat ini, banyak masyarakat yang tidak menyadari potensi penyakit jantung yang mungkin dapat dialami setiap orang. Bahkan, banyak yang tidak memahami gejala-gejala penyakit jantung seperti nyeri dada yang mungkin dianggap sebagai penyakit biasa.
nyeri dada bisa menjadi salah satu gejala dari penyakit jantung koroner (PJK). Nyeri dada akibat jantung yang khas atau disebut angina pektoris stabil memiliki karakteristik yang bisa dibedakan dengan nyeri dada yang tidak disebabkan oleh penyakit jantung (non cardiac).
Mengenal angina (nyeri dada)
Dalam dunia medis, sakit dada yang merupakan gejala penyakit jantung disebut sebagai angina. Angina mungkin terjadi ketika seseorang mengalami masalah pada pembuluh darah atau arteri koronernya. Pembuluh darah ini berlokasi dekat dan terhubung langsung dengan jantung. Tugasnya adalah mengalirkan darah dalam sistem pemompaan darah jantung.
Kebanyakan orang mengalami angina karena tumpukan plak pada dinding arteri yang menghalangi aliran darah menuju jantung. Ketika pasokan darah ke jantung terhambat atau bahkan terhenti sama sekali, akan terjadi serangan jantung.
Terdapat dua jenis angina yang paling sering terjadi, yaitu stabil dan tak stabil. Ada pula angina mikrovaskuler dan angina varian, tapi keduanya sangat jarang terjadi.
Angina stabil: dalam jenis angina ini, sakit dada muncul secara terpola. Ada hal tertentu yang memicu munculnya nyeri dada, misalnya ketika berolahraga, mengalami stres secara emosional, atau sehabis makan makanan berat. Kondisi itu menyebabkan kerja jantung lebih keras dan memerlukan lebih banyak oksigen. Umumnya rasa nyeri berlangsung kurang dari 10 menit, lalu hilang sendiri.
Angina tidak stabil: kebalikan dengan angina stabil, rasa sakit pada dada dalam jenis angina ini terjadi tanpa pola. Artinya, tidak ada aktivitas atau hal lain yang secara spesifik memicu sakit dada. Bahkan rasa nyeri bisa muncul saat orang sedang beristirahat. Salah satu penyebabnya adalah adanya bekuan darah yang menyumbat arteri secara tiba-tiba. Jenis angina ini lebih membahayakan karena tak bisa diprediksi.
Gejala nyeri dada karena serangan jantung
Nyeri dada memang tidak selalu terkait dengan masalah jantung. Sebab, beberapa nyeri dada juga terkait dengan masalah otot dada, paru-paru dan lambung yang dapat memberikan gambaran serupa. Untuk lebih jelasnya, berikut sejumlah gejala nyeri dada karena serangan jantung:
Karakteristik nyeri yang dirasakan
Perbedaan nyeri dada karena asam lambung dan sakit jantung yang pertama terletak dari rasa nyerinya. Nyeri dada akibat penyakit asam lambung (GERD) digambarkan seperti sensasi terbakar di dada atau nyeri pada ulu hati (heartburn).
Sementara itu, nyeri dada yang terjadi karena serangan jantung dipicu oleh kekurangan pasokan darah ke otot jantung sehingga menyebabkan keluhan dada terasa seperti ditekan, diremas, atau tertimpa benda berat di bagian dada kiri.
Selain itu, nyeri dada karena sakit jantung biasanya dapat menjalar hingga ke lengan bagian kiri.
Waktu munculnya gejala
Perbedaan nyeri dada karena asam lambung dan sakit jantung berikutnya bisa dilihat dari waktu kemunculannya. Nyeri dada akibat GERD biasanya akan muncul beberapa saat setelah mengonsumsi makanan tertentu ataupun ketika belum makan sama sekali. Selain itu, nyeri dada karena GERD juga bisa muncul jika seseorang sedang dalam keadaan stres emosional, serta memiliki kebiasaan berbaring atau tidur setelah makan.
Jika dipicu oleh serangan jantung, rasa nyeri dada yang muncul tidak berhubungan dengan konsumsi makanan ataupun pola waktu makan. Biasanya, kondisi ini terjadi secara tiba-tiba atau saat sedang melakukan aktivitas fisik berat.
Gejala penyerta yang dirasakan
Nyeri pada lambung pada dasarnya bisa menjadi salah satu tanda dari angina dan bisa disertai muntah atau mual, terutama jika sumbatan terjadi pada pembuluh arteri koroner kanan sehingga sering terjadi misdiagnosis karena dianggap sakit maag.
Nyeri ulu hati karena sakit maag atau GERD sering disertai keluhan lain seperti rasa terbakar di sekitar dada (heart burn) akibat adanya regurgitasi asam lambung (makanan yang telah ditelan namun kembali ke kerongkongan atau mulut). Sakit maag bisa disertai gejala penyerta lain seperti sering sendawa, kembung, dan nyeri ulu hati jika terlambat makan.
Adapun gejala potensi jantung lain yang wajib diketahui bisa berupa sesak dan cepat lelah bila beraktivitas, gangguan irama jantung, syncope (pingsan), dan berbagai gejala lainnya.
Riwayat penyakitnya
Beda nyeri dada karena serangan jantung dan gejala asam lambung juga dapat dilihat dari riwayat penyakit penderitanya. Umumnya, seseorang yang memiliki riwayat penyakit diabetes, hipertensi, ataupun obesitas lebih rentan mengalami nyeri dada yang muncul akibat serangan jantung.
Diagnosa nyeri dada karena serangan jantung
Lantaran kemiripan gejala, pasien yang merasakan sakit di dada langsung menuju instalasi gawat darurat di rumah sakit karena menduga mengalami sakit jantung, khususnya serangan jantung. Begitu menjalani pemeriksaan, barulah diketahui tidak ada penyakit jantung. Tindakan pasien yang segera meminta diperiksa dokter itu amat baik. Sebab, memang hanya dokter yang dapat menegakkan diagnosis apakah pasien hanya mengalami sakit dada karena penyakit lain atau ada penyakit jantung.
Dalam pemeriksaan, dokter akan melakukan serangkaian tes. Hal pertama yang dilakukan adalah memeriksa fisik pasien dan bertanya apakah ada anggota keluarga yang punya penyakit jantung. Setelah itu, dokter mungkin meminta pasien menjalani tes radiologi, laboratorium, serta tes lain guna mengetahui kondisi jantung. Misalnya:
Tes darah ketika otot rusak karena serangan jantung, tubuh mengeluarkan zat yang masuk ke darah. Dengan tes darah, zat ini bisa diketahui. Lewat tes ini pula dokter dapat mengetahui kadar kolesterol serta glukosa dalam darah yang bisa memicu penyakit jantung.
Ekg EKG dapat menilai seberapa baik detak jantung berdasarkan pemeriksaan aktivitas kelistrikan jantung
Treadmill test / stressed stess dilakukan untuk skrining atau deteksi bagi pasien yang memiliki gangguan fungsi jantung seperti gangguan irama jantung (aritmia) dan penyakit jantung koroner. Pasien dengan faktor risiko penyakit jantung seperti obesitas dan hipertensi juga perlu menjalani tes treadmill (pemeriksaan fisik jantung) sebagai upaya deteksi dini adanya gangguan fungsi jantung.
Echocardiogram tes ultrasonografi dengan sinar-X ini bertujuan melihat apakah ada masalah pada bilik dan katup jantung, juga mengetahui seberapa kuat jantung dalam memompa darah
Coronary angiography sering disebut juga kateterisasi jantung, yakni penggunaan kateter yang dimasukkan ke arteri dan diarahkan ke jantung. Dokter lalu memasukkan cairan kontras dan memakai sinar-X untuk melihat apakah ada sumbatan di arteri dan seberapa parah sumbatan tersebut jika ada

