Antraks merupakan penyakit infeksi yang ditularkan dari binatang yang membawa bakteri Bacillus anthracis. antraks dapat menimbulkan bermacam-macam gejala dan serangan bisa terjadi pada kulit, saluran pencernaan, dan pernapasan.
Antraks yang menyerang pernapasan umumnya dapat berakibat fatal, bahkan dapat menyebabkan penderitanya meninggal dunia. Kasus antraks sebetulnya sangat jarang terjadi. Namun bakteri penyebab antraks, pada beberapa kondisi, sering digunakan oleh teroris sebagai serangan senjata biologi atau bioterorisme.
Anthrax bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. Beberapa kawasan seperti Amerika Selatan dan Tengah, Eropa Timur dan Selatan, Asia, Afrika, Karibia, serta Timur Tengah melaporkan lebih banyak kasus anthrax pada hewan di wilayah tersebut dibandingkan pada kawasan lain. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, di Indonesia terdapat 14 wilayah endemis anthrax, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatera Barat, Jambi, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Gejala
Gejala anthrax bervariasi, bergantung pada jenis dan seberapa luas persebarannya. Gejala yang ditimbulkan biasanya mulai muncul tujuh hari setelah terjadi kontak. Berikut ini adalah beberapa gejala umum dari anthrax:
• Anthrax kulit: Gejala berupa luka kecil yang kemudian berkembang menjadi luka bernanah dengan area hitam di tengah. Area di sekitar luka akan membengkak dan berwarna kemerahan, biasanya tidak terasa sakit.
• Anthrax usus: Gejala yang muncul berupa sakit perut, demam, kehilangan nafsu makan, mual serta muntah, bahkan hingga perdarahan saluran cerna.
• Anthrax inhalasi: Gejala awal yang ditimbulkan oleh jenis anthrax ini mirip seperti flu biasa atau pilek, sakit tenggorokan, demam ringan, dan nyeri otot. Ketika berlanjut dan penyakitnya berkembang, gejala dapat mencakup kelelahan, batuk, dada terasa tidak nyaman, hingga sesak napas.
Cara Dokter Mendiagnosis Anthrax
Menurut CDC, cara untuk mendiagnosis anthrax hanya dapat dilakukan dengan mengukur kadar antibodi atau toksin dalam darah serta melakukan tes langsung untuk mendeteksi keberadaan bakteri Bacillus anthracis pada sampel yang diambil dari:
• Darah
• Lesi kulit
• Cairan sumsum tulang belakang
• Sekret pernapasan
Sampel harus diambil sebelum pasien mulai menjalani perawatan dengan antibiotik untuk menegakkan diagnosis.
Pengobatan
Pengobatan antraks adalah dengan menggunakan antibiotik. Jenis antibiotik dan lama pemberian antibiotiknya tergantung dari gejala yang dialami oleh pasien. Namun secara umum, antibiotik yang umumnya digunakan adalah doksisiklin atau golongan kuinolon (seperti siprofloksasin dan levofloksasin).
Jika terjadi kondisi sesak napas yang berat atau syok, perawatan di ruang rawat intensif perlu dilakukan.
Komplikasi
Pasien bisa pulih sepenuhnya dari infeksi anthrax jika secepatnya mendapat perawatan. Bila tidak, bisa terjadi beberapa komplikasi yang serius seperti:
• Sepsis, terjadi ketika infeksi menyebar ke seluruh tubuh hingga mengakibatkan kerusakan berbagai sistem organ.
• Meningitis hemoragik, terjadi peradangan pada membran dan cairan yang menyelimuti otak dan sumsum tulang belakang hingga menyebabkan perdarahan masif dan berisiko kematian.
• Syok, merupakan kondisi medis yang mengancam jiwa yang ditandai dengan menurunnya tekanan darah dan mengakibatkan sistem peredaran darah yang buruk.
• Abses, spora anthrax bisa membentuk abses (kantong berisi nanah) pada kulit atau organ tubuh lainnya
Pencegahan
Untuk mencegah tertular antraks, mereka yang sehari-hari bekerja dengan hewan atau produk hewan sebaiknya rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun setiap kali selesai bekerja. Selain itu, selama bekerja, penting untuk selalu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap berupa masker, goggle (semacam kacamata pelindung), sarung tangan, dan apron.

