JANGAN SEPELEKAN NYERI KEPALA!

Hampir semua orang di seluruh dunia pasti pernah mengalami nyeri dalam bentuk apapun. Salah satu nyeri yang paling banyak diderita oleh masyarakat adalah nyeri kepala, dimana hampir 90% dari total masyarakat dunia pernah mengalami nyeri kepala dalam hidupnya. Selain itu, nyeri kepala selalu menjadi permasalahan dalam kehidupan sosio-ekonomi masyarakat karena menimbulkan dampak terhadap produktivitas kerja dan membatasi aktivitas harian masyarakat. Fakta-fakta tersebut menyebabkan keluhan nyeri kepala harus diketahui oleh masyarakat awam agar lebih waspada terhadap keluhan ini.
Secara umum nyeri kepala dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu nyeri kepala primer dan nyeri kepala sekunder. Nyeri kepala primer adalah nyeri kepala yang muncul akibat respons terhadap stres (baik fisik maupun psikis). Nyeri kepala primer sendiri dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu Tension Headache, Migrain, dan Cluster Headache.

Nyeri kepala primer:

Tension Headache merupakan jenis nyeri kepala yang paling banyak dikeluhkan pasien dengan gejala rasa sakit pada kedua sisi kepala seperti terikat kencang dan terkadang rasa sakitnya sampai ke leher. Biasanya nyeri kepala jenis ini disebabkan oleh stress, kelelahan, kurang tidur, atau otot tegang.
Sedangkan migrain merupakan nyeri kepala berdenyut di salah satu sisi kepala, yang biasanya berlangsung selama beberapa jam. Penderita migrain juga biasanya menjadi sensitif terhadap cahaya, suara, dan bau.
Nyeri kepala primer Cluster adalah nyeri kepala pada daerah sekitar mata atau di belakang mata. Rasanya seperti tertusuk-tusuk dan biasanya disertai dengan gejala lain, seperti hidung tersumbat, mata merah dan berair di salah satu mata yang sakit. Umumnya Cluster Headache lebih banyak diderita oleh pria.

Nyeri kepala sekunder :

Nyeri kepala dengan disertai gejala gangguan saraf seperti kejang, mata juling, penglihatan ganda, dan kelemahan di salah satu alat gerak. Nyeri kepala sekunder dapat disebabkan oleh adanya kelainan patologis pada otak. Kelainan ini dapat berupa tumor otak, stroke, thrombosis (sumbatan pada arteri), hipertensi berat (maligna), infeksi otak (meningitis, encephalitis, abses), atau kelainan pembuluh darah otak, seperti aneurisma dan AVM (artiriovenous malformation). Nyeri kepala ini yang harus diwaspadai dan harus mendapatkan penanganan medis dengan segera.

Siapa Saja yang Berisiko Sakit Kepala Berkepanjangan

Faktor-faktor lain yang berperan dalam timbulnya nyeri kepala berkepanjangan antara lain kecemasan/stress terkait dengan keluarga, teman, sekolah atau pekerjaan, depresi, gangguan tidur, obesitas, kebiasaan mengorok, konsumsi kafein berlebih, penggunaan obat nyeri kepala terus menerus tanpa pengawasan dokter, allergen seperti serbuk sari, debu, dan bulu hewan peliharaan, asap rokok, bau menyengat dari bahan kimia/parfum, jenis kelamin wanita, perubahan cuaca, pencahayaan, suara bising, aktivitas yang menyebabkan mata, leher dan punggung kaku serta adanya kondisi nyeri kronis lainnya.

Cara Mengatasi Sakit Kepala yang Tak Kunjung Sembuh

Sakit kepala yang tak kunjung sembuh bisa disebabkan oleh berbagai hal. Penanganannya tergantung apa penyebab sakit kepala itu. Namun secara umum Anda bisa meredakan rasa sakit kepala yang berkepanjangan dengan beberapa cara, seperti:
• Menghindari pemicu, misalnya cahaya terang, bau menyengat, suara bising, asap rokok, kafein, atau lainnya
• Tidur yang cukup selama 7-8 jam per hari
• Menghindari penggunaan obat nyeri kepala berlebihan
• Minum air putih yang cukup
• Makan makanan sehat dan teratur.
• Mengendalikan stres
• Berolahraga teratur
• Hindari merokok dan alcohol
• Postur tubuh yang baik

Segera berkonsultasi kepada dokter bila sakit kepala didukung dengan beberapa kondisi, misalnya:
• memiliki riwayat penyakit kronis lain seperti tekanan darah tinggi, jantung, stroke, dan diabetes
• terjadi nyeri kepala yang sangat hebat
• keluhan nyeri kepala tidak hilang dengan obat-obatan yang biasa diminum
• nyeri terjadi pada daerah wajah atau di sekitar mata.

Tindakan untuk mengatasi nyeri kepala adalah dengan pain management yaitu dengan farmakoterapi (menggunakan obat-obatan), fisioterapi, dan psikoterapi. Namun apabila dari gejala yang muncul menunjukkan kemungkinan terjadinya nyeri kepala sekunder, maka sebaiknya dilakukan proses screening dengan MRI atau CT Scan untuk melihat kemungkinan adanya kelainan pada otak.

Oleh Tim Medis RS. Mitra Medika Premiere