Tidak semua penderita kanker mengalami nyeri akibat kanker, namun hampir separuh pasien kanker mengalami nyeri. Peluang terjadinya nyeri lebih tinggi jika kanker kambuh kembali atau sudah menyebar. Nyeri kanker bisa dijadikan gejala untuk mengarahkan diagnosa, atau mungkin hanya dirasakan pada stadium akhir. Nyeri disebabkan oleh kanker itu sendiri, hal ini terjadi ketika kanker tumbuh atau menghancurkan jaringan di sekitarnya. Ketika tumor tumbuh, ia dapat menekan saraf, tulang, atau organ. Tumor juga dapat melepaskan bahan kimia yang dapat menimbulkan rasa sakit.
Jenis nyeri kanker bisa tumpul, tajam, rasa pegal atau rasa terbakar. Hal ini bisa bersifat konstan, intermiten, ringan, sedang atau berat. Seberapa parah rasa sakit yang Anda rasakan bergantung pada beberapa faktor, yaitu jenis kanker, tingkat keparahan, lokasi, dan toleransi individu terhadap rasa sakit. Karena nyeri kanker setiap pasien berbeda maka rencana pengobatan untuk manajemen nyeri harus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Pengobatan kanker dapat membantu mengatasi rasa sakit, namun pengobatan kanker berupa pembedahan, radiasi dan kemoterapi juga dapat menimbulkan rasa sakit.
Sekitar 9 dari 10 pasien nyeri kanker mendapatkan kesembuhan dengan menggunakan kombinasi obat-obatan. Jika nyeri kanker menyebabkan sulit mengurus diri sendiri, membatasi aktivitas sehari-hari, atau mengganggu tidur, hal ini perlu disampaikan kepada pelayanan kesehatan. Pentingnya untuk mengevaluasi nyeri dengan menggunakan skala 0-10, Dimana 0 berarti tidak ada rasa sakit dan 10 adalah rasa sakit maksimal. Jika nyeri kanker menyebabkan sulit mengurus diri sendiri, membatasi aktivitas sehari-hari, atau mengganggu tidur, hal ini perlu disampaikan kepada pelayanan kesehatan.
Manajemen nyeri biasanya dimulai dengan obat-obatan yang dijual bebas seperti asetaminofen atau ibuprofen. Jika obat ini tidak cukup untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat, obat dengan resep dokter mungkin diperlukan. Beberapa jenis pengobatan yang tersedia tergantung pada penyebab nyeri kanker dan intensitas nyeri yang dirasakan apakah ringan, sedang ataupun berat. Kombinasi perawatan nyeri bisa dilakukan untuk mendapatkan hasil maksimal. Beberapa pilihannya meliputi:
NSAID, biasanya digunakan untuk tingkat nyeri ringan dan sedang, obat pereda nyeri ini tidak memerlukan resep dokter dan dijual bebas. Contohnya termasuk aspirin, asetaminofen dan ibuprofen.
Opioid, obat ini biasanya digunakan untuk mengobati nyeri sedang hingga berat. Obat ini termasuk golongan obat keras sehingga membutuhkan perhatian khusus dan resep dokter. Contohnya morfin dan oksikodon. Beberapa opioid adalah jenis obat jangka pendek, sehingga harus diminum lebih sering. Obat opioid lainnya merupakan obat jangka panjang sehingga obatnya tidak perlu diminum terlalu sering. Terkadang opioid short-acting dan long-acting digunakan bersamaan.
Jenis obat lain yang dapat membantu meredakan nyeri, termasuk antidepresan, obat anti kejang dan steroid.
Prosedur blok saraf, prosedur ini digunakan untuk menghentikan pengiriman sinyal nyeri ke otak dengan cara obat disuntikkan di sekitar atau ke dalam saraf.
Alternatif, beberapa orang juga menggunakan alternatif akupunktur, pijat, terapi fisik, latihan relaksasi, meditasi dan hipnosis.
Semua obat pereda nyeri mempunyai efek samping. Perlunya Kerjasama yang baik antara dokter dan pasien dalam memahami manfaat dan risiko setiap pengobatan nyeri dan cara mengelola efek sampingnya.

