RS. Mitra Medika Premiere
Nyeri leher atau pinggang adalah gejala yang paling sering ditemukan pada pasien dengan masalah tulang belakang. Nyeri ini dapat berupa nyeri di sekitar leher atau pinggang saja atau nyeri yang menjalar.
Nyeri leher atau punggung dapat berasal dari berbagai struktur di tulang belakang dimulai dari otot, ligamen, bantalan sendi (diskus) dan sendi facet, saraf, dan tulang.
Nyeri merupakan proses alamiah dari tubuh yang memberikan sinyal kepada kita bahwa ada sesuatu yang salah di tempat tersebut. Dengan menganalisa sifat nyeri yang dikeluhkan, sedikit banyak dapat memprediksi letak sumber nyeri dan juga penyebabnya.
Hernia nukleus pulposus (HNP) adalah kondisi ketika bantalan ruas tulang belakang bergeser dan menekan saraf tulang belakang yang lebih sering dikenal dengan istilah ‘saraf terjepit’.
Adapun keluhan yang dialami tergantung area yang mengalami HNP, bisa dari leher hingga pinggang, dimana 95% terjadi pada area pinggang ke bawah. Keluhan yang biasa dialami antara lain nyeri, bisa hingga kesemutan ataupun kelemahan otot.
Berdasarkan waktunya, terdapat 3 kategori nyeri:
• Nyeri akut: Terjadi dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu
• Nyeri sub akut: Nyeri dari 2 minggu hingga 3 bulan
• Nyeri kronik: Nyeri lebih dari 3 bulan (> 12 minggu)
Apa itu Hernia Nukleous Pulposus (HNP)?
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah kondisi di mana bantalan tulang belakang mengalami kelemahan sehingga rentan bergeser, terdorong keluar, menonjol, dan menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang.
Perlu diketahui, nukleus pulposus adalah struktur berbentuk cincin yang terletak di antara tulang belakang (vertebrae) dan berfungsi sebagai penghubung antar ruas tulang belakang. Nukleus pulposus tersusun dari bahan seperti jeli yang terdiri dari air (66–86%) dan jaringan serat kolagen yang longgar. Struktur elastis inilah yang memungkinkan cakram tulang belakang dapat menahan tekanan dan bergerak dengan lentur mengikuti postur tubuh.
Penyebab Hernia Nukleus Pulposus (HNP)?
Beberapa penyebab umum dan faktor risiko dari HNP meliputi:
• Penurunan kekuatan dan elastisitas inti dari cakram tulang belakang karena bertambahnya usia.
• Gaya hidup tidak sehat seperti kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan merokok.
• Kelebihan berat badan (obesitas).
• Sering mengangkat, menarik, atau mendorong beban berat.
• Mengalami cedera fisik akibat terjatuh atau benturan pada tulang belakang.
• Memiliki penyakit degeneratif.
• Memiliki faktor genetik atau riwayat keluarga dengan HNP.
Faktor Resiko yang menyebabkan seseorang beresiko menderita HNP
Memiliki keluarga dengan riwayat saraf kejepit
Memiliki berat badan berlebih
Mengangkat beban berat dengan posisi dan tumpuan yang salah
Melakukan gerakan menunduk dan berputar secara mendadak atau berulang
Memiliki kebiasaan merokok
Gejala HNP
Gejala yang ditimbulkan tergantung terjadinya HNP.
Bila berada di leher, maka gejalanya berupa:
• Nyeri di leher.
• Sensasi berat, pegal kadang rasa panas di sekitar leher.
• Nyeri menjalar ke bahu atau lengan atau tangan.
• Disertai rasa kesemutan dan lebih baal.
• Bila berat dapat disertai gangguan keseimbangan dalam berjalan.
Bila terjadi di pinggang, maka gejalanya berupa:
• Nyeri di pinggang kadang diikuti dengan pinggang yang miring untuk mencari posisi yang nyaman.
• Tidak kuat duduk ataupun berdiri lama.
• Rasa pegal yang hebat di sekitar pinggang.
• Tidak bisa menekuk pinggang dikarenakan nyeri hebat dan tarikan ke paha belakang dan betis.
• Dapat disertai nyeri menjalar ke paha atau tungkai bawah atau betis atau kaki.
• Kadang disertai kesemutan dan panas di area yang terdampak.
• Dapat disertai gangguan kencing dan buang air besar.
• Dapat terjadi kelemahan pada kedua kaki.
Diagnosa HNP
Riwayat Kesehatan
Dokter akan mewawancarai pasien untuk mengetahui riwayat kesehatan, termasuk gejala yang dialami, lama gejala berlangsung, dan faktor-faktor risiko yang mungkin terkait dengan keluhan pasien. Informasi tentang riwayat kesehatan keluarga juga mungkin relevan dalam menentukan kemungkinan adanya faktor genetik yang berperan dalam perkembangan penyakit.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan termasuk pemeriksaan neurologis untuk menilai fungsi dan respons saraf, kekuatan otot, kemampuan berjalan, kemampuan untuk merasakan sentuhan ringan, tusukan peniti, atau getaran (vibrasi). Selain itu dilakukan pemeriksaan postur dan gerakan tubuh untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidaknormalan atau kelemahan otot yang terkait dengan HNP.
Pemeriksaan radiologi
Bila gejala tidak kunjung membaik, pemeriksaan akan dilanjutkan ke pemeriksaan penunjang dimulai dari rontgen/ X Ray atau bisa langsung dilakukan pemeriksaan MRI (Magnetic resonance imaging) yang merupakan standar emas untuk penegakan diagnosis HNP.
Pengobatan HNP
Terapi Konservatif
Terapi konservatif merupakan terapi pilihan pertama untuk penderita HNP. Terapi konservatif direkomendasikan untuk penderita HNP yang masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari, seperti buang air kecil, berdiri, dan berjalan. Berikut terapi konservatif yang dapat diberikan:
• Istirahat yang cukup.
• Pemberian obat-obatan seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dan pelemas otot.
• Injeksi kortikosteroid.
• Fisioterapi.
• Kompres hangat atau dingin pada area yang nyeri.
Terapi invasif
Sementara itu, terapi invasif pada HNP dilakukan pada kasus-kasus di mana gejala HNP sudah tidak dapat membaik dengan obat-obatan atau terapi konservatif lainnya. Terapi invasif dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu.
Ultrasound Guided Injections
Ultrasound guided injections sering digunakan sebagai bagian dari manajemen nyeri pada pasien HNP. Prosedur ini melibatkan penggunaan perangkat ultrasonografi (USG) untuk memandu injeksi obat-obatan seperti obat antiinflamasi atau kortikosteroid dan anestesi lokal ke area yang terdampak.
Tindakan Operatif
Jika berbagai terapi tersebut tidak berhasil atau gejala pasien semakin parah, maka pembedahan dapat menjadi pilihan terakhir. Pembedahan untuk HNP biasanya dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh cakram hernia yang menyebabkan tekanan pada saraf.
Komplikasi HNP
HNP dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang serius jika tidak segera ditangani dengan baik atau jika kondisinya semakin memburuk. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul akibat HNP antara lain:
• Kerusakan fungsi saraf yang dapat semakin memburuk hingga terjadi kelumpuhan.
• Gangguan kandung kemih atau usus, yang dapat menyebabkan terjadinya inkontinensia urine atau inkontinensia tinja.
• Cauda Equina Syndrome.
• Saddle anesthesia.
Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah HNP, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risikonya:
• Mempertahankan berat badan ideal dan sehat.
• Rutin berolahraga.
• Menjaga postur tubuh yang benar ketika berdiri, duduk, dan mengangkat beban.
• Menghindari kebiasaan merokok.
• Menggunakan peralatan kerja yang ergonomis. Misalnya, gunakan kursi dan meja kerja yang sesuai untuk mengurangi tekanan pada tulang belakang.
• Rutin melakukan peregangan untuk menjaga fleksibilitas dan mengurangi ketegangan otot yang berlebihan.
• Sesekali berdiri jika pekerjaan mengharuskan untuk duduk dalam waktu lama.
• Tidur dengan posisi yang baik.
Keluhan keluhan yang diakibatkan Hernia Nukleus Pulposus ini tentunya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan juga akan menyebabkan komplikasi yang serius jika tidak ditangani dengan baik. Jika Anda mengalami gejala-gejala yang mencurigakan atau memiliki riwayat keluhan tulang belakang, segera konsultasikan dengan dokter spesialis saraf di RS. Mitra Medika premiere untuk pemeriksaan lebih lanjut dan mendapatkan penanganan yang tepat.

