NYERI PUNGGUNG? BISA JADI ITU HNP

Total individu yang pernah mengalami nyeri pinggang bawah seumur hidupnya berjumlah 60-80%, bahkan sekitar 25% pasien yang datang untuk berobat dengan nyeri pinggang bawah akan cenderung mengalami episode nyeri pinggang bawa lain dalam 1 tahun.
Nyeri pinggang bawah sering dikaitkan dengan penyakit saraf kejepit atau hernia nukleus pulposus (HNP). HNP adalah sebuah kondisi dimana sebuah bagian lembut yang terdapat di dalam rongga tengah tulang belakang mencuat ke luar dari posisi asalnya secara paksa sehingga menimbulkan nyeri dan iritasi di saraf tulang belakang yang akhirnya dirasakan sebagai rasa nyeri.
Lokasi kerusakan tersebut akhirnya akan menentukan lokasi nyeri itu pula, sebab ada yang menimbulkan nyeri batas leher dan punggung (bila saraf terjepit di level leher) dan menimbulkan nyeri di batas pinggang hingga kaki (bila saraf terjepit di level tulang belakang pinggang hingga tulang ekor).

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan HNP:

Umur
Proses penuaan biasanya dimulai ketika seseorang beranjak ke usia 30 tahun. Hal ini mengakibatkan kekuatan otot dan tulang menjadi berkurang sehingga dapat memicu terjadinya HNP.

Jenis kelamin
Menurut sebuah penelitian, nyeri pinggang bawah lebih sering diderita oleh perempuan daripada laki-laki karena kemampuan otot perempuan yang lebih rendah. Selain itu proses menopause pada perempuan juga dapat melemahkan otot dan tulang yang dapat menimbulkan HNP.

Berat badan
Semakin berlebih berat badan seseorang, maka semakin mudah terjadi kerusakan pada tulang belakang karena adanya peningkatan beban, sehingga nyeri pinggang bawah lebih mudah menyerang seseorang dengan obesitas dibandingkan dengan orang dengan berat badan ideal.

Lama kerja, posisi kerja, repetisi dan beban kerja
Lama kerja yang disarankan pada pekerja adalah 40 jam per minggu, bila melebihi maka seseorang akan mengalami kelelahan dan penurunan produktivitas karena bisa terjadi nyeri pinggang bawah. Posisi kerja yang tidak ergonomis juga dapat menimbulkan nyeri pinggang bawah. Posisi ini seperti berlutut, jongkok, menjepit, berputar, dan posisi lain yang tidak sesuai dengan rangka otot dan tulang manusia dapat menimbulkan nyeri pinggang bawah. Repetisi atau pengulangan terjadinya hal-hal yang telah disebutkan di atas juga pada akhirnya menjadi faktor risiko tambahan bagaimana seseorang dapat menderita nyeri pinggang bawah.

Pola hidup yang buruk
Pola hidup seperti merokok, minum minuman beralkohol dan faktor stress dapat memicu kerusakan otot dan tulang belakang yang memudahkan seseorang menderita nyeri pinggang bawah.

Gejala Klinis HNP

Gejala Klinis HNP
Hernia nukleus pulposus tidak menimbulkan gejala dengan sendirinya. Namun, nukleus yang terlepas dapat menekan saraf atau sumsum tulang belakang di dekatnya, terkadang menyebabkan kerusakan serius. Ketika gejala mulai muncul, gejala tersebut mungkin termasuk:
Nyeri kronis dan rasa ketidaknyamanan
Nyeri yang menjalar sepanjang saraf atau menjalar ke leher dan kaki
Mati rasa atau kebas
Kesemutan

Beberapa hal untuk mengatasi HNP adalah sebagai berikut:

Istirahat
Penderita masih boleh melakukan aktivitas sehari-hari agar tetap aktif, namun selama mengalami nyeri, penderita disarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat terutama yang banyak menggunakan kekuatan pinggang seperti angkat beban. Penderita juga harus cukup istirahat setelah beraktivitas.

Obat anti radang
Nyeri pinggang bawah dapat diterapi dengan penggunaan obat anti radang. Namun terapi seperti ini harus dikonsultasikan dengan dokter karena efek sampingnya terhadap saluran pencernaan, hati, dan jantung.

Beberapa obat anti radang yang kerap digunakan:
– Obat anti radang (OAINS) yang dijual bebas seperti ibuprofen
– Obat untuk meredakan nyeri saraf seperti amitriptilin, gabapentin, pregabalin, dan tramadol
– Penyuntikan steroid
– Dokter akan menyuntikkan steroid langung ke saraf tulang belakang melalui prosedur injeksi epidural
– Tindakan pembedahan
– Tindakan pembedahan dapat dilakukan melalui prosedur disektomi dan laminotomi.
– Tujuan terapi nyeri pinggang bawah adalah fokus untuk menghilangkan nyeri, menghambat perjalanan perburukan penyakit, memperbaiki kualitas hidup untuk bisa meningkatkan aktivitas atau mobilitas hidup penderita.

Reviewed by Dr.dr. Tasrif Hamdi, M.Ked (An) Sp.An, KMN

Dokter Spesialis Manajemen Nyeri RS Mitra Medika Premiere